Menangani Bencana Alam dengan Teknologi Informasi

Tahun 2017 dimulai dengan berbagai bencana seperti tanah longsor, puting beliung, gempa bumi, serta gunung meletus. Tentunya, pemerintah perlu segera mengaplikasikan teknologi informasi yang bisa langsung digunakan tanpa perencanaan yang lama. Apa sajakah teknologi-teknologi itu? Simak selengkapnya di sini.

Tahun 2017 memang bukan tahun yang bebas bencana. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejak 1 Januari hingga 5 Mei 2017 sudah tercatat sekitar 1.087 bencana yang terjadi di Indonesia, dengan banjir dan tanah longsor sebagai bencana yang paling kerap terjadi.

Bencana-bencana lain di Indonesia termasuk tanah longsor, puting beliung, gempa bumi, dan belakangan ini meletusnya gunung merapi juga menelan korban jiwa yang tidak sedikit, sehingga kerentanan bencana telah menjadi salah satu masalah yang diwaspadai pemerintah. Bahkan, pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan ke-4 di bulan Mei lalu, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pun mengutarakan perlu adanya bantuan teknologi dan riset agar upaya preventif dapat digalakkan.

Pada saat terjadinya bencana pun, upaya penanganan para petugas dapat dibuat lebih efektif dengan adanya kolaborasi antara pusat komando dengan petugas lapangan yang lebih cepat, terutama di lokasi-lokasi bencana yang lebih luas, di mana para petugas penyelamat perlu disebar ke berbagai titik. Upaya kolaborasi yang lebih efektif ini dapat diwujudkan dengan bantuan aplikasi kolaborasi berbasis cloud yang diaplikasikan pada ponsel dan komputer jinjing setiap petugas penyelamat, sehingga mereka dapat mengirim dokumen secara instan dari manapun, mulai dari laporan, foto lokasi, peta, video, ataupun melakukan panggilan video dengan pengguna aplikasi lainnya. Walaupun tergolong canggih, aplikasi kolaborasi ini dapat langsung diimplementasi cukup dengan mengaplikasikannya pada ponsel para petugas penyelamat.

Ada pula perangkat yang dikhususkan untuk membantu petugas dalam memantau lokasi-lokasi bencana yang lebih berbahaya, seperti tanah longsor atau lokasi letusan gunung. Perangkat yang berbentuk ponsel ini, yang disebut juga sebagai Digital Enhanced Cordless Telecommunications (DECT) Handset, dirancang untuk lingkungan beresiko dengan desain kuat yang dapat menahan berbagai benturan keras, air, cairan kimia, serta debu-debu kecil yang dapat membahayakan perangkat elektronik pada umumnya. Bahkan DECT Handset juga dapat dilengkapi fitur yang mendeteksi musibah yang menimpa petugas yang membawanya (tidak ada gerakan tubuh, terjatuh, hingga suara keras) dan akan secara otomatis mengirim panggilan darurat ke nomor yang ditentukan.

Kolaborasi antara petugas dan pusat komando di lokasi bencana juga mengharuskan tak hanya petugas penyelamat, tapi juga pusat komando untuk memberikan respon cepat, terutama saat petugas penyelamat sedang membutuhkan bantuan atau memberikan laporan penting mengenai situasi lokasi bencana. Untuk itu, pemerintah dapat bantu mengimplementasi solusi teknologi yang dapat mempermudah pegawai pusat komando dalam mengantisipasi serta mengidentifikasi telepon-telepon darurat. Teknologi call center ini sudah seringkali diimplementasi di negara lain dalam penanganan situasi darurat, entah itu bencana alam atau krisis keamanan negara, karena dapat secara otomatis membuat laporan statistik mengenai jenis-jenis panggilan darurat yang pernah masuk dari petugas lapangan, sehingga proses analisa keadaan dapat segera dilakukan tanpa hambatan teknis apapun.

Walaupun teknologi kolaborasi, Industrial DECT Handset, dan call center di atas tergolong canggih, solusi-solusi tersebut sesungguhnya sudah hadir di Indonesia, dan disediakan salah satunya oleh Alcatel Lucent Enterprise. Dengan penggunaan teknologi informasi yang masih bisa dibilang rendah di Indonesia, tersedianya solusi-solusi tersebut menandakan besarnya kesempatan pemerintah dalam memperbaiki proses penanganan dan antisipasi menggunakan teknologi informasi. Kira-kira apa sajakah teknologi yang menurut Anda dapat segera diimplementasi untuk menangani bencana alam di Indonesia?

Categories: Artikel

No comments yet, be the first to leave one!

You must be logged in to post a comment.