Sudah Siapkah Indonesia Dengan Sistem Tranportasi Otomatis?

Dalam era digital segala sesuatu bergerak dengan cepat, penumpang pun menuntut waktu tempuh yang lebih singkat dibanding sebelumnya.

Efektivitas pengelolaan sistem transportasi terus meningkat bersamaan dengan peningkatan tuntutan kualitas pelayanan penumpang. Digitalisasi dan sistem otomasi dengan teknologi termutakhir merupakan salah satu solusi yang menjadi pilihan para operator transportasi di Indonesia. Akan tetapi sudah siapkah Indonesia dengan sistem transportasi otomatis?

Secara harfiah, otomasi adalah teknik membuat perangkat, proses, atau sistem berjalan secara otomatis atau lebih tepatnya menggantikan tenaga manusia dengan alat mekanis maupun elektronis. Otomasi tidak hanya diperuntukan untuk meningkatkan performa operasional, tapi juga keamanan penumpang, serta mengurangi tingkat kemacetan dan energi yang digunakan.

Lewat proses digitalisasi dan sistem otomasi yang tepat, operator transportasi bisa memberikan pengalaman terbaik pada penumpang. Waktu tempuh menjadi lebih singkat, kenyamanan dan keamanan perjalanan pun semakin terjamin.

Di Indonesia, Skytrain atau Automated People Mover System yaitu kereta tanpa masinis sebagai transportasi antarterminal di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, telah resmi beroperasi sejak 26 Desember 2017 lalu.

Dengan adanya interkoneksi antara kereta bandara, penumpang dapat menjadwalkan keberangkatan mereka ke bandara dengan tepat waktu dan lebih baik. Keberadaan fasilitas yang terintegrasi dengan baik ini, menunjang ketepatan jadwal dari dan menuju ke Bandara Soekarno-Hatta. Teknologi otomasi ini terbukti meningkatkan kenyamanan dan memberikan pengalaman berkendara terbaik bagi penumpang.

Proyek Skytrain di Bandara Soekarno-Hatta ini menjadi pionir kereta tanpa masinis pertama di Indonesia. Hal ini tentu menjadi sebuah terobosan baru di bidang transportasi nusantara. Teknologi ini menjadi pelopor otomasi di bidang transportasi tanah air, satu langkah baik menuju penerapan Smart City di Indonesia.

Otomasi disisi operasional memerlukan perangkat network yang memiliki kemampuan pemulihan mandiri dan pengelompokan network secara otomatis seperti Intelligent Fabric dapat sangat menghemat waktu operasional.

Sementara itu dari sisi keamanan Shortest Path Bridging dapat membantu membangun jembatan network dan dapat mengurangi waktu secara drastis untuk kovergensi kembali dan hal ini secara otomatis bisa menghindari pembatasan MPLS dan Spanning Tree Protocol (STP). Hal ini dapat memperkecil kemungkinan kesalahan yang diperbuat oleh manusia.

Menilik dari sisi efisiensi, penerapan otomasi di ranah transportasi akan sangat membantu masalah-masalah transportasi di Indonesia. Namun, di sisi lain zaman telah bergeser menuju arah yang serba digital. Teknologi mulai menggantikan peran manusia. Di satu sisi teknologi bisa menjelma jadi ancaman. Banyak pekerjaan yang semula dikerjakan manual oleh manusia kini telah digantikan posisinya oleh mesin.

Mesin dianggap mampu mengeksekusi pekerjaan lebih tepat dibanding manusia. Mesin mampu bekerja purna waktu kelelahan, tidak perlu istirahat, dan tidak menuntut. Melihat jumlah tenaga kerja aktif Indonesia yang cukup besar, apakah sistem otomasi dan digitalisasi merupakan jawaban dari permasalahan transportasi Indonesia? Sudah cukup amankah sistem transportasi Indonesia jika dikelola dengan sistem otomasi? Siapkah Indonesia menyerap teknologi ini?

Temukan informasi selengkapnya seputar Shortest Path Bridging dan Intelligent Fabric di sini.

Categories: Artikel

No comments yet, be the first to leave one!

You must be logged in to post a comment.