Jaringan Internet Protocol (IP) Sebagai Tulang Punggung Integrasi Antartransportasi Publik Jabodetabek

Di akhir 2017, penumpang Transjakarta mencapai 486.000/hari dan KRL Commuter Line mencapai 960.109 penumpang per hari (hitungan akhir 2017). Volume besar ini tentu membutuhkan jaringan antartransportasi umum yang terintegrasi dalam sistem IP (Internet Protocol) di satu layarmuka. Hal ini dirasa perlu untuk segera diterapkan, mengingat integrasi dan sinkronisasi keduanya memiliki potensi untuk dapat menyelesaikan berbagai keruwetan layanan transportasi publik di ruas Jabodetabek.

Layanan transportasi publik di Jabodetabek membutuhkan sistem berlapis agar dapat berjalan lancar, selagi memastikan pengemudi dan penumpang agar tetap aman. Terlebih lagi, mengetahui berbagai halangan di banyak jalur sepanjang Jabodetabek. Integrasi sistem ini dapat berfungsi untuk memberikan kontrol, keselamatan, komunikasi dan informasi bagi pengendara.

Kini fungsi informasi dan kontrol sudah dimiliki oleh pihak Dinas Perhubungan dan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, melalui akses terhadap sistem IP . Akses ini dapat digunakan untuk memantau setiap lampu lalu lintas atau persimpangan dengan menempatkan CCTV di berbagai titik lalu lintas. Namun yang disayangkan, sistem ATCS (Advanced Traffic System Control) DKI Jakarta belum terintegrasi dalam satu layarmuka, baik di Pusat Kontrol Dishub ataupun BPTJ.

Penerapan integrasi keduanya dapat menghasilkan pengamatan dan pengolahan data real time, yang diterima Pusat Kontrol , informasi ini dapat ditampilkan melalui aplikasi ponsel pintar dan platform website. Solusi ini dapat memberikan kemudahan bagi penumpang untuk mengakses jadwal keberangkatan tiap moda (kereta dan bis), membeli tiket, mengatur rute perjalanan hingga mendapat informasi real time waktu tempuh armada dari tiap moda dalam jaringan transportasi Jabodetabek yang terintegrasi. Hal ini dapat meningkatkan kenyamanan serta kemudahan mobilitas jutaan penumpang Transjakarta dan KRL Commuter Line di area Jabodetabek setiap harinya.

Namun yang perlu diingat, kemampuan untuk mengolah volume besar data real time tersebut membutuhkan jaringan single IP yang mampu memenej data, audio, video dan transaksi dalam jumlah besar setiap harinya. Selain bisa diakses melalui aplikasi ponsel pintar dan web application, jaringan ini juga mengintegrasikan layanan telepon dalam layanannya. Di sini, jaringan berbasis SPB yang Alcatel-Lucent Enterprise (ALE) tawarkan bisa menjadi solusi.

Jaringan ini akan berada dalam Intelligent Transportation System Jabodetabek, Jakarta Smart City dan Integrated Control and Management System KRL Commuter Line. Kemampuan jaringan berbasis SPB untuk menghantarkan data real time video dalam jumlah besar tentu menjadi keunggulan tersendiri. Penumpang akan mendapatkan akses pantauan real time perjalanan yang akan mereka tempuh, sekaligus membeli tiket dan merencanakan perjalanan.

ALE telah mengimplementasikan sistem ini dalam Merysetravel, badan pertimbangan eksekutif tranportasi berbagai moda untuk Liverpool City Region Combined Authority di kota Liverpool, Inggris.

Sistem sekaligus layarmuka Merseytravel dibangun di atas jaringan IP dengan perangkat performa tinggi dan tahan segala cuaca. Aplikasi dan layarmuka Merseytravel dapat diakses dari sambungan telepon, ponsel pintar serta aplikasi situs web yang memudahkan penumpang mengatur perjalanannya di kota Liverpool.

Dengan semakin bergesernya pilihan moda transportasi Jabodetabek dari kendaraan pribadi menuju public, akankah pemerintah DKI Jakarta menerapkan integrasi antar moda dalam satu jaringan IP berbasis SPB ? Mengingat meningkatnya jumlah data perjalanan harian pada jalur Jabodetabek.

Categories: Artikel

No comments yet, be the first to leave one!

You must be logged in to post a comment.