Transformasi Digital Pada Sistem Teknologi, Informasi dan Komunikasi di Sektor Pertahanan Negara

Derasnya akselerasi digital dan ancaman perang siber mengharuskan lini terdepan pertahanan memasuki periode transformasi digital. Dimulai dari kebijakan dari bermuara di SDM dan kelengkapan teknologi, pembaruan sistem Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) di sektor pertahanan harus segera diakselerasi.

Diamanatkan dalam Buku Putih Pertahanan Indonesia (2008) dan Permenhan No. 82 tahun 2014, pertahanan siber telah menjadi bidang krusial pertahanan negara. Selain itu, alat dan jalur komunikasi juga harus segera diakselerasi ke jalur digital. Kini wewenang atas transformasi digital berada di bawah masing-masing angkatan dengan kecepatan berlainan.

TNI-AD contohnya, telah menjajaki penggunaan handy talkie berkemampuan radio dan RoIP (Radio over Internet Protocol) bersama mitra swasta sejak 2015. Konvergensi platform berbasis radio dan VoIP (Voice over Internet Protcol) serta GSM (Global System for Mobile Communication) pada alat ini dapat memperkuat komunikasi di daerah perbatasan dan pedalaman.   Namun, hingga kini belum ada lagi kabar terbaru mengenai pengembangan alat tersebut.

Masih di sektor komunikasi, Korps Marinir TNI-AL baru-baru ini juga menerima hibah radio taktis Harris Falcon III US Socpac dari United States Marine Corp (USMC). Radio ini berbasis teknologi Mobile Ad-Hoc Networking (MANET), berjalur komunikasi via satelit dan memiliki jaringan berkecepatan tinggi yang dengan enkripsi berlapis.

Radio taktis tersebut merupakan alat terbaru setelah  pembaruan unit radio komob (komunikasi mobil) Digital Direction Finding (DDF) 550 dan radar penginderaan Surveillance Radar System (LSRS) Kelvin Hughes, yang semuanya berbasis digital.

TNI-AL juga telah mengakuisisi ELAC Nautik KaleidoScope untuk sistem sonar dan komunikasi kapal selam Nagapasa 403 Changbogo Class. Sonar ini memiliki kemampuan pengawasan, deteksi, pelacakan, analisis dan klasifikasi. Sistem ini memiliki layarmuka digital yang dirancang fleksibel dan memungkinkan operator menentukan tata letak jendel tersendiri untuk setiap layar pada pengendalian konsol multifungsi.

Dalam operasi militer, komunikasi berkecepatan tinggi serta handal secara konsisten merupakan standar yang harus dipenuhi. Jalur komunikasi dari komando sentral ke tiap lini angkatan, baik Darat, Laut maupun Udara bergantung pada jalur komunikasi unggulan. Informasi akurat merupakan bagian penting dari penyusunan strategi taktis.

Sistem komunikasi yang ketinggalan jaman dapat menjadi titik lemah sistem komando dan membuka kemungkinan kegagalan operasi. Selain kebijakan dan standard operation procedure, teknologi yang belum terbarui pun dapat menggiring operasi dalam kegagalan sistem. Penggunaan jalur komunikasi berbasis radio dan analog, tanpa didukung oleh konvergensi digital, tak dapat mengejar transformasi digital negara lain di bidang pertahanan.

Kombinasi penggunaan Internet of Things, aplikasi mobile, robotik dan teknologi penginderaan (imaging) adalah “rute” baru komunikasi sebagai lapisan pertahanan pertama dan transformasi digital dalam pertahanan. Jalur dan jaringan komunikasi yang terhubung dan mampu bergerak di dua jalur (radio dan GSM) kini tengah menjadi mode pembangunan sistem yang marak diterapkan.

Konvergensi beberapa teknologi baru tersebut dapat menjadi terobosan baru dalam peningkatan mutu pertahanan Indonesia. Pembangunan platform komunikasi baru yang tersentralisasi memudahkan manajemen TIK serta data antar-angkatan yang lebih cepat dan hemat biaya. Sistem komunikasi yang tersentralisasi pada akhirnya akan menyederhanakan operasi dan manajemen informasi.

Salah satu rujukan dari konvergensi ini adalah pembangunan jaringan terbaru Korps C4I (Command, Control, Communications, Computers, and Intelligence), hasil kolaborasi Elbit dan angkatan militer Israel pada 2015. Kerjasama ini menghasilkan program master yang mengkomputerisasi serta mendigitasi semua operasi di angkatan darat, laut dan udara. Program ini menghubungkan ketiga ranah operasi dan rantai komando ke dalam satu jaringan transfer data.

Walau perangkat serta jaringan komunikasi angkatan bersenjata Republik Indonesia masih berjalan, tapi dalam jangka panjang transformasi digital dan komputerisasi menjadi langkah yang harus ditempuh agar negara siap menghadapi tantangan di dunia global. Transformasi digital adalah keniscayaan di bidang pertahanan dan kemanan.

Categories: Artikel

No comments yet, be the first to leave one!

You must be logged in to post a comment.