Kebutuhan Akan Connected e-Government

Warga ingin layanan yang mudah, cepat, murah, dan akurat. Teknologi informasi yang saling terhubung dapat menjawab itu semua.

Seorang warga negara, seperti Anda dan saya, memerlukan banyak. Misalnya, sejak baru lahir saja kita sudah perlu akta kelahiran. Dan ketika meninggal dunia pun, kita perlu layanan dari pemerintah berupa penerbitan surat kematian. Itu baru dua contoh kecil. Masih banyak lagi surat yang kita perlukan, baik untuk keperluan pribadi maupun kegiatan lainnya seperti bisnis.

Awalnya, sistem pencatatan atau dokumentasi di pemerintahan dilakukan secara manual. Seiring berkembangnya teknologi, khususnya teknologi informasi, muncullah electronic government (e-government atau e-gov). Dengan pemanfaatan teknologi ini, pemerintah diharapkan dapat memberi layanan yang lebih baik.

Sebetulnya apa harapan dari warga terhadap layanan pemerintah baik yang elektronik maupun yang manual? Ada beberapa kebutuhan (requirements). Layanan harus mudah, cepat, murah, dan akurat.

Mudah. Warga negara ingin layanan yang mudah diurus. Misal, ketika bayi lahir maka seharusnya akta kelahiran dapat langsung dibuat. Akan merepotkan kalau pembuatan akta kelahiran ini dibuat susah (complicated). Misal harus lapor ke kota lain, menunggu ini dan itu, harus ditandatangani oleh pejabat ini dan itu, dan seterusnya.

Tak heran jika dahulu ada lawakan yang mengatakan, “Kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah?”

Kesulitan pemerintah melayani warganya pada zaman dahulu dapat dipahami karena belum ada teknologi memadai, sehingga banyak hal yang harus dilakukan secara fisik. Misalnya, surat harus dikirimkan menggunakan jasa pos yang membutuhkan waktu berhari-hari. Jika ada kesalahan atau kekurangan data maka proses bisa makan waktu lebih panjang. Data harus ditulis dan dicari secara manual.

Nah, pemanfaatan teknologi informasi memungkinkan kemudahan memberikan layanan. Pertukaran data antar-instansi dapat dilakukan dengan mudah. Data dapat dicari dan diverifikasi dengan lebih mudah. Bahkan permintaan layanan dapat dilakukan dari rumah tanpa kita harus hadir secara fisik dan antre giliran.

Cepat. Salah satu sifat dari manusia adalah tidak sabar. Warga Negara ingin mendapat layanan segera. Jika tidak segera, setidaknya proses mengurus layanan dapat lebih terprediksi sehingga kita dapat mengatur jadwal.

Dapat dimengerti bahwa jaman dahulu layanan membutuhkan waktu. Semua masih dilakukan secara manual. Namun sekarang seharusnya layanan dapat diberikan dengan lebih cepat. Secara teknologi ini memungkinkan. Biasanya yang mengganjal adalah adanya proses yang masih harus dilakukan secara manual, misal membutuhkan verifikasi yang dilakukan oleh manusia atau membutuhkan tanda tangan pejabat tertentu.

Murah. Pemanfaatan teknologi informasi dapat membuat layanan menjadi lebih murah. Dengan otomatisasi, produktivitas pekerja meningkat. Biaya pemberian layanan bisa ditekan lebih murah.

Namun selalu ada tuntutan untuk mendapatkan layanan lebih baik lagi. Kalau kemarin layanan membutuhkan waktu dua hari, maka sekarang harus selesai satu hari. Kalau yang lalu layanan selesai dalam satu hari, maka sekarang harus selesai dalam hitungan jam. Dan seterusnya.

Maka sistem harus diperbaharui. Teknologi yang lebih baru diterapkan. Investasi lagi. Pada tahap awal, infrastruktur jaringan juga masih harus dibangun sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit juga. Sesuai dengan berjalannya waktu, investasi ini akan bermanfaat untuk jangka panjang. Namun jika kurang berhati-hati, kita dapat terjebak dalam siklus yang membuat layanan tidak menjadi lebih murah.

Akurat. Pengelolaan data e-government secara manual sangat rawan ketidakakuratan. Perpindahan atau pertukaran data dari satu layanan (aplikasi) ke layanan lain menambah masalah ketidakakuratan lagi jika dilakukan secara manual. Saat ini ada banyak aplikasi yang terpisah-pisah sehingga masih membutuhkan intervensi manual yang rentan kesalahan. Untuk itu pemanfaatan teknologi informasi yang saling terhubung (connected) merupakan sebuah keharusan.

Selain kebutuhan (requirements) di atas, sebetulnya masih ada kebutuhan-kebutuhan lain seperti misalnya privasi data milik warga. Ini juga tidak kalah pentingnya. Namun ini dapat menjadi bahasan di lain kesempatan.

Masalah Lain. Keberadaan teknologi ternyata tidak serta-merta memberikan perubahan. Desain yang salah, implementasi yang kurang sempurna, operasional yang saling menghambat, dapat menyebabkan kualitas layanan sama saja dengan yang tidak melibatkan teknologi.

Sebagai contoh, saat ini sudah banyak “sistem informasi” di pemerintahan, tetapi kebanyakan sistem ini berjalan sendiri-sendiri dan tidak saling berhubungan. Maka pertukaran data antar sistem itu menjadi sulit dan bahkan tidak memungkinkan. Jadi sistem-sistem tersebut harus saling terhubung antara satu dan lainnya.

Menurut Anda, apa kebutuhan lain yang penting juga dicermati?

Oleh: Budi Rahardjo

Categories: Artikel

One comment

  1. Budi Rahardjo said on August 27, 2016
    Bagi saya sebetulnya "mudah" merupakan aspek yang utama. Kalau susah, biasanya orang sudah males duluan.

You must be logged in to post a comment.