Pentingnya Pengelolaan dan Integrasi Aplikasi

Antara aplikasi dan layanan tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri-sendiri. Perlu ada pengelolaan dan integrasi untuk menghindari adanya masalah.

Dalam sebuah sistem pemerintahan terdapat banyak layanan bagi publik. Dalam satu kota, misalnya, ada sekitar 1500 layanan. Saat ini, pendekatan yang dilakukan adalah dengan mengimplementasikan satu aplikasi tersendiri untuk satu layanan. Jadi, untuk 1500 layanan akan ada 1500 aplikasi.

Secara teori, sebenarnya keberadaan 1500 aplikasi ini tidak menjadi masalah. Namun, dalam prakteknya ini merupakan masalah besar. Bayangkan, jika sebuah aplikasi membutuhkan seorang administrator/pengelola, maka akan dibutuhkan 1500 orang administrator.

Okelah, anggap jika satu orang menangani 10 aplikasi, maka masih diperlukan 150 orang administrator. Jumlah yang banyak ini sangat tidak memungkinkan. Pihak sumber daya manusia pastinya akan keberatan untuk mempekerjakan sebegitu banyaknya administrator.

Masalah kedua terletak pada duplikasi data di aplikasi-aplikasi tersebut. Sebagai contoh, untuk setiap aplikasi tersebut kemungkinan ada data tentang nama kita (nama penduduk). Problemnya muncul jika nama kita dituliskan secara berbeda antara satu aplikasi dan yang lain. Kita akan dianggap sebagai dua orang yang berbeda.

Sebagai contoh, di satu aplikasi boleh jadi nama saya ditulis “Budi Rahardjo”, sementara di aplikasi lain “B. Rahardjo”. Bagi kedua aplikasi tersebut boleh jadi ini akan dianggap dua orang yang berbeda. Belum lagi jika ejaan yang digunakannya juga berbeda. Sebagai contoh, nama saya bisa saja tersimpan sebagai “Rahardjo” (ejaan lama) atau “Raharjo” (ejaan baru). Lagi-lagi ini akan dianggap sebagai dua orang yang berbeda.

Itu baru soal nama. Belum lagi ada banyak data lain yang juga kemungkinan besar terduplikasi, seperti misalnya data alamat. Variasi penulisan data yang berbeda juga besar terjadi di data ini.

Akar permasalahan data di atas adalah karena tidak adanya integrasi dari aplikasi. Masing-masing aplikasi berjalan sendiri-sendiri dengan datanya sendiri-sendiri juga. Aplikasi tidak dapat saling berbagi dan bertukar data. Untuk itu dari awal implementasi sebuah sistem informasi (e-government kalau di pemerintahan) perlu dipikirkan mekanisme integrasi dengan aplikasi lain.

Secara teknis, integrasi kadang sulit dilakukan karena aplikasi-aplikasi tersebut berada di platform yang berbeda. Masalah ini sesungguhnya dapat dipecahkan meskipun harus membutuhkan upaya yang luar biasa repotnya. Jika dari awal aspek integrasi sudah dipikirkan dan diimplementasikan, maka masalah ini dapat dipecahkan dengan lebih mudah.

Jumlah aplikasi yang banyak (scalability) juga merupakan salah satu sumber masalah. Penyatuan beberapa layanan dalam satu aplikasi mungkin dapat mengurangi masalah ini.

Mari kita mulai memikirkan masalah integrasi aplikasi ini dengan lebih serius mumpung belum semua (1500) layanan itu menjadi 1500 aplikasi yang terpisah-pisah.

Categories: Artikel

No comments yet, be the first to leave one!

You must be logged in to post a comment.