Gaya Kerja Dan Teknologi Untuk Generasi Milenial

Generasi millennial sangat kreatif dalam menyuarakan pendapat, dan berpotensi menjadi tenaga kerja penting bagi pemerintah. Apa saja yang perlu diketahui tentang mereka dan bagaimana cara pemerintah dapat memaksimalkan talenta tenaga kerja ini?

Dibesarkan melalui era pergantian milennium, tak heran jika generasi milenial memiliki sifat yang berbeda dari generasi lainnya. Generasi pemuda yang kerap disebut juga sebagai Generation Y atau Net Generation ini terlahir di sekitar tahun 1980an hingga 2000 dan cenderung lebih kreatif, paham teknologi, dan aktif dalam menyuarakan sudut pandang mereka.

Karena karakteristik mereka ini, mereka seringkali terdorong untuk berpartisipasi dalam aktifitas-aktifitas pemerintah yang bertujuan untuk membawa perubahan. Sebagai contoh, menurut Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia, sebagian besar relawan pemantau dalam pemilihan umum 2014 adalah kelompok milennial, dan saat ini mereka juga menjadi penggerak dalam pengembangan aplikasi Jakarta Smart City.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada sekitar 40% masyarakat Indonesia yang tergolong dalam generasi milenial, dan jumlah ini diperkirakan akan meningkat hingga 50% pada tahun 2020 mendatang. Ini alasan tenaga kerja berkepribadian aktif ini berpotensi menjadi penentu masa depan negara, terutama jika diresap dan dikembangkan oleh pemerintah.

Namun cara mengelola talenta mereka di lingkungan kerjapun bisa dibilang berbeda. Selain pentingnya sistem open office dan sosok seorang mentor, pemerintah dapat menyediakan fasilitas terkini untuk mendukung kenyamanan bekerja kaum milenial. Ini karena menurut sebuah riset oleh PWC, sekitar 78% milennial perlu menggunakan teknologi yang mereka sukai untuk bisa bekerja lebih efektif dan cepat, dan hasil survey yang dilakukan Microsoft membuktikan 93% responden merasa penggunaaan teknologi terkini adalah salah satu aspek terpenting dalam sebuah pekerjaan.

Setiap harinya, kaum milennial selalu menggunakan teknologi terkini agar tetap terhubung dimanapun; seperti komputer, ponsel, hingga jam tangan pintar. Ini membuat mereka cenderung lebih mobile, dan dapat bekerja dengan produktif dimanapun mereka berada. Menurut riset yang dilakukan Gartner, 30% milennial merasa sangat produktif bekerja di ruang umum, selama ada teknologi yang mempermudah kolaborasi antar rekan bisnis.

Untuk mengikuti gaya kerja kaum millenial yang mobile ini, pemerintah dapat menggunakan aplikasi kolaborasi seperti OpenTouch yang memungkinkan mereka untuk berinteraksi melalui panggilan video, mengirim dokumen penting secara aman, hingga memimpin rapat dan presentasi secara online. Selain menghemat waktu dan biaya, solusi kolaborasi ini dapat diimplementasikan tak hanya pada komputer kantor, tapi juga ponsel pribadi, sehingga mereka dapat tetap terhubung tanpa hambatan dimanapun dan kapanpun.

Smart Deskphone sangat sesuai untuk menunjang kinerja millenial yang mengharapkan teknologi terkini di lingkungan kerja. Ini merupakan telepon meja dengan fitur-fitur tambahan seperti integrasi email, kapabilitas untuk mengikuti panggilan konferensi online, hingga menyimpan nomor telepon. Ditambah lagi, dengan adanya fitur ‘Contactless Call Shift’ pada OpenTouch, para karyawan bahkan dapat memindahkan percakapan dari Smart Deskphone ke perangkat ponsel tanpa perlu menutup telepon atau menekan tombol apapun. Ini tentunya dapat memperlancar komunikasi dan proses kolaborasi antar karyawan.

Bagaimana menurut Anda? Selain yang disebutkan, apa saja cara pemerintah mengelola tenaga kerja kaum millennial selama ini? Silahkan komentarkan pengalaman Anda di bawah ini.

Categories: Artikel

One comment

You must be logged in to post a comment.