Penerapan Green Wave Advanced Transportation Management System Sebagai Pengurai Kemacetan Ruas Jalan Raya Jabodetabek

Belum sinkronnya manajemen rambu lalu lintas adalah adalah satu faktor penyumbang kemacetan di ruas jalan raya Jabodetabek. Arus lalu lintas yang tidak bergerak dalam rentan waktu tertentu menghasilkan penumpukan volume kendaraan di beberapa titik. Kepadatan ini bisa diurai melalui teknologi Green Wave yang mengintegrasikan seluruh rambu lalu lintas di dalam sistem Advanced Transportation Management System.

Di tengah membesarnya jumlah kendaraan bermotor (31.077.315, menurut data terbaru BPTJ) yang melintasi ruas Jabodetabek, kemacetan merupakan fenomena harian. Bahkan kecepatan rata-rata kendaraan hanya mencapai 10 KM/jam di jam-jam puncak. Sistem Advanced Traffic Control System di Jakarta dan Bodetabek tampaknya perlu disuplai metode pengurai kepadatan lain, yaitu Green Wave.

Menurut paper Green-Wave Traffic Theory Optimization and Analysis dari School of Civil Engineering & Mechanics, Huazhong University of Science and Technology, RRT, tahun 2014, sistem Green Wave didefinisikan sebagai berikut:

Green Wave adalah konsep kontrol lalu lintas di mana semua lampu lalu lintas persimpangan jalan dikoordinasikan dan dikontrol untuk memastikan efisiensi arus dan keselamatan pengguna.”

Metode ini memungkinkan pleton (grup kendaraan dalam jumlah tertentu) melewati beberapa persimpangan lampu lalu lintas (tiga atau lebih) tanpa henti. Green Wave dapat mencegah penumpukan jumlah kendaraan di persimpangan sibuk dan ruas protokol.

Sinkronisasi persimpangan ini dilakukan berdasarkan data real time dari sensor dan CCTV. Green Wave bisa dieksekusi melalui kecepatan dinamis yang adaptif dengan volume kendaraan, atau diatur secara statis melalui pengendalian lampu lalu lintas dari Pusat Kontrol. Syarat pertama yang dibutuhkan agar Green Wave bisa diterapkan adalah sinkronisasi dan integrasi Area Traffic Control System.

Menurut keterangan Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPTJ, Sigit Irfansyah, ATD., M.Sc, dalam diskusi Connected Government Community Gathering – Smart Transportation, Digitalization and Controlling System pada Selasa (27/2) di bilangan Menteng, sistem ATCS di ruas Bodetabek dan Jakarta belum terintegrasi.

Sensor dan CCTV memasok data real time ke Pusat Kontrol di BPTJ dan Dinas Perhubungan Kabupaten Kota Bodetabek. Volume kendaraan di persimpangan akan dihitung secara progresi dan memutuskan dinamika lampu lalu lintas secara otomatis. Sigit mengatakan proses integrasi simpang Bodetabek sudah dilakukan oleh BPTJ selama dua tahun terakhir. Walau sudah mengintegrasikan kurang lebih 200 simpang di ruas Bodetabek (dan 400 simpang di Jakarta sejak ATCS ’95-‘96).

“Semua pergerakan dia akan progresif menghitung siklus waktunya, tergantung jumlah kendaraan yang lewat.”

“Di Jakarta sudah, cuma sistem di Jakarta belum bisa kita integrasikan karena beda sistem jadi kita perlu mediasi sistem untuk mencapainya. Mudah-mudahan tahun 2019 kita tinggal gabung ke Jakarta, karena Jakarta mengembangkan sendiri sudah lama,” jelas Sigit.

Menilik dari sudut teknologi informasi, Sigit menyatakan ATCS Bodetabek dan Jakarta perlu diintegrasikan melalui antarmuka di Pusat Kontrol BPTJ dan Dishub Kabupaten Kota. Hingga kini ada sepuluh kota yang mengimplementasikan ATCS (Prov. Bali, Medan, Surakarta, Jakarta, Tangerang, Bandung, Padang, Surabaya, Pekalongan dan Yogyakarta) terhubung Internet Protocol dengan Pusat Kontrol BPTJ.

Selain kebutuhan integrasi dan sinkronisasi, data kendaraan sepanjang ruas Jabodetabek juga bisa didapatkan dan kemudian memudahkan implementasi Green Wave. Data real time tidak hanya diperlukan untuk analisis jangka panjang, tapi juga dapat ditayangkan sebagai informasi dan grafik digital.

Progresi dari ATCS menuju ITS (diamanatkan dalam UU no. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 80 ayat 2) harus diperkuat dengan peningkatan mutu perangkat jaringan. Kebutuhan pasokan data real time dan informasi visual-digital bagi pengguna ruas rata-rata membutuhkan jaringan LAN, IP/Ethernet berkapasitas dari 1 hingga 10 GBPS. Bersama Alcatel-Lucent Enterprise, jaringan ITS seperti ini sudah diimplementasikan oleh  Nevada Department of Transportation di jalan raya sepanjang 8690 KM.

Kelancaran pasokan data real time berpotensi meminimalisasi halangan samping yang menghambat laju pleton Green Wave. Informasi termutakhir yang disiarkan secara real time dapat mengubah perilaku pengguna jalan dan pengendara.

“Bisa seperti itu karena beberapa simpang terdekat kalau mungkin dia akan hijau terus, tapi memang kelemahannya ini hanya bisa di jarak tertentu. Pas jaraknya lewat hitungannya sudah tidak masuk, itu kena kendala lagi. Teorinya pleton, per pleton kita kirim, karena sekali hijau akan hijau terus pleton. Satu pleton itu bisa 50 kendaraan kan, sudah seperti itu kita menghitungnya.”

Di jalan protokol kita pintu keluar masuk banyak sekali. Pas pleton itu kita kirim, ada kendaraan in-out di satu gedung, pletonnya pun terhambat. Itu pasti enggak smooth lah, pasti ada pleton yang terhambat,” pungkas Sigit.

Dalam perkembangan menuju Smart City dengan Intelligent Transportation System, Green Wave patut dipertimbangkan sebagai metode manajemen lalu lintas. Di tengah menanjaknya pertumbuhan volume kendaraan pribadi pada ruas Jabodetabek, sudahkah saatnya berbagai stakeholder mendorong percepatan Intelligent Transportation System sebagai solusi kemacetan Jabodetabek?

Categories: Artikel

No comments yet, be the first to leave one!

You must be logged in to post a comment.