Langkah Perencanaan Jaringan Internet Dalam Transformasi Digital Pendidikan Formal

Pada perkembangan dunia pendidikan, kehadiran perangkat keras, perangkat lunak dan jaringan yang bisa diandalkan menjadi faktor penting di dalam menjawab transformasi digital. Ketiga faktor yang perlahan mengubah pendekatan kegiatan belajar mengajar sekolah ke arah yang lebih kooperatif dan kolaboratif.

Terdapat beberapa langkah esensial dalam mendukung pengembangan model proses belajar mengajar yang lebih smart. Langkah pertama adalah perencanaan jaringan internet dan kapabilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan murid. Perencanaan untuk membangun lingkungan belajar digital yang konsisten dimulai dari asesmen kebutuhan infrastruktur jaringan, kebutuhan bandwith dalam jangka pendek serta proyeksi untuk jangka panjang.

Pengukuran dimulai dari skala per murid, per kelas dan hingga lingkungan total sekolah, termasuk user lain seperti staff serta guru. Infrastruktur ini menjadi fondasi lingkungan belajar digital yang menyediakan koneksi merata, baik koneksi kabel atau nirkabel, serta manajemen jaringan yang terintegrasi dan aman.

Jaringan ini memungkinkan murid untuk terhubung ke jaringan di area sekolah mana saja (melalui berbagai access point secara otomatis) dan menunjang transfer informasi real-time dalam kegiatan belajar mengajar.

Tahap berikutnya adalah penerapan teknologi Wireless Local Area Network (seperti 802.11ac Wi-Fi® technology Gigabit Ethernet) yang bisa menangani penggunaan puluhan perangkat keras dan ratusan aplikasi di waktu bersamaan secara konsisten. Kepadatan dan jumlah perangkat di lingkungan sekolah harus bisa diantipasi oleh manajemen jaringan.

Struktur manajemen harus dibangun untuk mendorong user terhubung dengan jaringan kabel dan nirkabel dengan set policy terintegrasi. Penyatuan keduanya memudahkan manajemen untuk mengawasi dan melakukan fungsi kontrol lain untuk jaringan.

Infrastruktur yang unggul dan mampu melayani ratusan gawai terkoneksi secara konsisten juga memiliki core/server network dan data center yang memadai. Kelengkapan ini khususnya akan menunjang sekolah berjenjang dari tingkat SD hingga SMA yang berada dalam satu kompleks. Peningkatan kualitas core/server dan data center jaringan dapat dilakukan dengan memasang pengalih jaringan berkapasitas tinggi seperti OmniSwitch Stackable LAN Switches dan OmniAccess Controllers and Access Points.

Setelah infrastruktur tersebut dibangun untuk memenuhi kebutuhan lingkungan belajar digital, maka manajemen jaringan menjadi titik krusial berikutnya. Struktur manajemen sederhana yang terintegrasi dapat dipilih agar jaringan dapat melayani secara konsisten, bahkan di beberapa area sekolah terpisah (walau berada dalam satu grup/yayasan).

Model jaringan dan manajemen tersebut dapat dieksekusi dengan Alcatel-Lucent OmniVista™ 2500 Network Management System (NMS) yang telah mengotomasi proses masuknya gawai baru tanpa mengorbankan keamanan secara keseluruhan.

Pengaturan onboarding user berdasarkan tingkat (privilege) akses dan layarmuka hotspot dengan verifikasi pengenal pribadi sederhana dapat dipilih untuk menyederhanakan proses onboarding. Jaringan ini akhirnya dapat mendukung manajemen untuk mengaplikasikan BYOD (Bring Your Own Device), khususnya untuk sekolah-sekolah yang tidak memberikan gawai ajar untuk murid mereka.

Menurut ENABLING PERSONALIZED LEARNING: A Practical Guide to Developing K-12 Information Networks yang dirilis Alcatel-Lucent Enterprise, semua langkah tersebut telah dilakukan secara parsial oleh beberapa institusi pendidikan di Amerika Utara, seperti WOLF CREEK PUBLIC SCHOOLS (Kanada), RIDLEY SCHOOL DISTRICT (AS), dan KENNEWICK SCHOOL DISTRICT (AS). Semuanya merupakan jaringan sekolah dasar hingga tinggi yang terkoneksi, dan bukan hanya satu sekolah saja.

Setelah kesiapan infrastruktur, kebutuhan akan akses jaringan internet berkecepatan tinggi yang aman dan bisa diandalkan kini sudah memasuki ranah pendidikan. Selain dapat memudahkan kegiatan belajar mengajar, akses tersebut juga membuka berbagai kanal baru bagi pengajar untuk berinovasi saat mendidik, baik kemampuan membuka wawasan baru lewat kelas virtual, atau penggunaan gawai, dan komputer sebagai alat ajar. Interaksi belajar mengajar yang tidak hanya kooperatif dan kolaboratif, namun dapat juga memperkuat penyebaran serta meningkatkan kualitas pendidikan yang merata di berbagai penjuru negeri. Sudahkah dunia pendidikan Indonesia menyiapkan diri menjelang transformasi digital?

Categories: Artikel

No comments yet, be the first to leave one!

You must be logged in to post a comment.