Internet of Things Sebagai ‘Invisible Hand’ Dalam Paradigma Smart Government

Internet of Things kerap disebut akan mengubah paradigma dan cara pemerintah beserta instansinya menyelenggarakan berbagai fasilitas publik. IoT diklaim dapat menghubungkan instansi pemerintahan dan warga kota dengan lebih baik, aman dan responsif dalam menyelenggarakan pemerintahan, serta dianggap dapat meningkatkan kepercayaan kedua belah pihak melalui proses real-time transparan.

Melalui pemahaman komprehensif setelah input diolah dari berbagai sensor data di berbagai sektor pelayanan publik (pengukuran kepadatan jalan, kecepatan kereta Commuter, suhu umum jalan raya dan pendeteksian lokasi transit bis berjalur seperti TransJakarta, dll), teknologi ini juga dianggap dapat mengurangi penggunaan energi secara umum sekaligus meningkatkan keselamatan warga kota.

Poin krusial lainnya, IoT juga memungkinkan pemantauan terinci terhadap berbagai infrastruktur publik demi menciptakan proses yang lebih efisien serta mengurangi biaya operasional. Peran IoT dalam memperlancar penyelenggaraan fasilitas publik diklaim dapat membuat pelayanan publik lebih baik, aman, efisien, lebih pintar serta lebih mudah dikelola.

Contohnya adalah Mass Transit Bus (TransJakarta, TransJogja) yang dapat berfungsi sekaligus sebagai pengumpul informasi dan data topologi kota melalui jaringan sensor (di tubuh bis, di jalan raya, atau rute khususnya), dan kamera digital beresolusi tinggi. Efisiensi bis juga dapat ditingkatkan melalui keterhubungan jaringan serta pertukaran informasi konstar antarunit. Hal ini memungkinkan bis saling bertukar informasi melalui layarmuka 3D untuk mengetahui kondisi jalan secara umum dan spesifik.

Aspek keselamatan dan aktualitas informasi juga dapat disiarkan adalah marka jalan digital dinamis. Marka ini berubah secara real-time, mengikuti tangkapan informasi sensor dan pengholahan data terpusat. Layanan ini dapat meningkatkan kewaspadaan pengemudi pribadi atau transportasi publik saat berkendara di jalan raya.

Tantangan dalam membangun jaringan IoT yang memuat sensor, kamera, pengukur suhu, dan berbagai gawai pemantauan lain adalah besarnya aliran data. Derasnya aliran ini dapat menyebabkan infrastruktur ICT kewalahan, belum lagi risiko besar keamanan (peretasan, serangan DDOS, virus, dll) dari berbagai end-point.

Sebagai pakar di bidang pembangunan infrastuktur ICT berskala kota, Alcatel-Lucent Enterprise menyatakan tiga poin utama sebagai titik krusial fase desain, manajemen, operasional dan perawatan jaringan ICT.

Langkah pertama adalah proses otomasi yang sederhana untuk device onboarding. Banyaknya gawai dan sensor yang terhubung dalam jaringan IoT tingkat kota membutuhkan metode ini agar sistem dapat secara jelas mengenali onboard device dan menempatkannya dalam lini jaringan yang sesuai.

Langkah kedua adalah untuk memastikan ketersediaan sumber daya agar jaringan dapat berjalan dengan tepat dan efisien. Hal ini perlu dipantau secara konsisten karena banyak gawai dan sensor dalam sistem IoT mengirimkan informasi bertaraf mission-critical yang membutuhkan Quality of Service spesifik.

Langkah ketiga adalah penyediaan jaringan yang aman dan dapat mempertahankan diri deari serangan siber serta data loss. Tidak hanya dalam tataran device onboarding, keamanan menjadi titik krusial dalam kebijakan IoT containment. Data publik harus menjadi perhatian utama dalam perancangan kemampuan keamanan sistem IoT.

Selain perancangan dalam tataran model dan perancangan, teknologi hardware ALE juga mampu menjawab tantangan implementasi sistem IoT dalam paradigma Smart Governance.

Jaringan ALE memungkinkan beberapa virtual network yang terpisah untuk beroperasi dalam satu infrastruktur. Kemudian, ALE Unified Access dapat melangsungkan integrasi antara jaringan kabel dan nirkabel untuk beroperasi dalam satu jaringan, yang berjalan di bawah satu policy framework, skema otentikasi terpadu serta database otentikasi tunggal.

Sistem manajemen Alcatel-Lucent OmniVista® 2500 juga menyediakan layarmuka manajemen terpadu yang mampu mengelola berbagai virtual network, switch (pengalih-arus), access points dan segala komponen lain dalam jaringan tersebut.

Pesatnya pengunaan teknologi dan sistem IoT kini sudah merambah masuk dalam sektor pemerintahan. Sebagai tingkatan lanjut dari model e-Government, Smart Government diasumsikan dapat memanfaatkan IoT sebagai ‘tangan tak terlihat’ yang mampu mengumpulkan data dan informasi secara konsisten, real-time dan akurat.

IoT berpotensi mengubah cara instansi pemerintahan menyelenggarakan pelayanan publik. Sudah siapkah pemerintah kota Indonesia merancang sistem IoT dalam paradigma Smart Government?

Categories: Artikel

No comments yet, be the first to leave one!

You must be logged in to post a comment.