Pentingnya Perencanaan Infrastruktur ICT dalam Paradigma Smart City

Pentingnya Perencanaan Infrastruktur ICT dalam Paradigma Smart City

Perencanaan jaringan ICT merupakan tahap krusial dalam paradigma Smart City. Menurut program Gerakan Menuju 100 Smart City 2018 yang diinisiasi Kementrian Komunikasi dan Informatika, enam kerangka perencanaan Smart City terdiri dari enam pilar yaitu Smart Governance, Smart Branding, Smart Economy, Smart Living, Smart Society dan Smart Environment.

Dari gerakan tahap pertama, tercetus beberapa inisiatif terkait pemanfaatan teknologi untuk pariwisata daerah, hingga peningkatan UMKM lewat e-commerce. Langkah ini kemudian ditunjang oleh implementasi berbagai teknologi terkini, termasuk sistem IoT sebagai pengumpul informasi dan data dari lingkungan kota secara real-time untuk menajamkan analisis atas kondisi yang terjadi serta membantu pemerintah kota menetapkan kebijakan.

Maka, kebutuhan jaringan tersebut harus dapat memuat infrastruktur jaringan berisi IP network berkemampuan telekomunikasi suara, video dan nirkabel serta solusi untuk transmisi data. Tujuan utama jaringan ini adalah menyokong proses berbagai layanan publik dan pengumpulan-pengolahan informasi dari perangkat elektronik/sensor IoT.

Dengan mengumpulkan temuan dari perangkat elektornik dan sensor yang terhubung dalam jaringan nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran besar mengenai kondisi kota. Langkah ini memungkinkan pemerintah kota untuk bergerak cepat selagi menjamin kualitas berbagai layanan publik yang disokong hasil analisis temuan lapangan dan data terkait.

Infrastruktur jaringan berperan sebagai medium transportasi bagi seluruh informasi dan data, baik suara, VoIP (voice over IP) di antara berbagai communication point. Sementara IP sebagai jalur transportasi data dari transmitter (gawai dan sensor) ke receiver (data/command center) memungkinkan komunikasi ini terjadi selagi dua sistem atau lebih saling berkomunikasi.

Contohnya komunikasi antara sistem Smart Health (ketersediaan Unit Gawat Darurat) dan Smart Transportation (ketersediaan unit transportasi yang dapat beroperasi) dalam menghadapi kondisi ekstrim seperti banjir.

Smart City harus memiliki infrastruktur jaringan yang mampu mengoperasikan hal berikut:

  • Telekomunikasi suara, video dan data.
  • Menjamin keamanan data melalui encryption, admission dan intrusion detection.
  • Menjamin Quality of Service data.
  • Kemudahan manajemen bandwith.
  • Menjamin redudansi saat terjadi kegagalan, termasuk kegagalan Uninterrupted Power Supply.
  • Kemudahan manajemen gawai-sensor dalam jaringan.

Infrastruktur ini meningkatkan “intelegensi” Smart City serta memungkinkan pemantauan-pengedalian infrastruktur/aset fisik (bus, gedung pemerintahan, unit ambulans, dll) secara real time.

Tak hanya pemerintah, data dan temuan tersebut juga dapat membantu warga dalam kesehariannya. Informasi ini dapat ditampilkan melalui berbagai kanal digital, situs resmi dan aplikasi ponsel pintar.

Dalam berbagai pemantauan-pengendalian objek-objek tersebut, baik CCTV untuk manajemen lalu lintas atau layanan pembuatan janji rumah sakit umum berbasis web, serta pemberitahuan melalui berbagai kanal digital harus berjalan tepat waktu dan akurat. Hal ini diharapkan dapat mendorong warga dan pengguna untuk mengambil keputusan dengan bijak.

Salah satu kisah sukses perencanaan Smart City oleh Alcatel-Lucent Enterprise dapat dilihat dari penerapan rencana teknologi Rainbow CPaaS dan UCaas serta beberapa produk berkapasitas bandwith tinggi di Rabawai, Palestina. Sebagai kota terencana pertama di Palestina, proyek ini bertujuan untuk meningkatkan lapangan kerja baru dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang, lewat sokongan teknologi pintar serta jaringan fiber optik berkecepatan tinggi.

Dalam perencanaan ini, Rabawi membutuhkan infrastruktur jaringan IP yang sanggup menerima traffic big data dari perangkat penyokong Smart City. Dua kebutuhan lain adalah solusi tunggal untuk menghubungkan, membaca dan menganalisis data serta menyediakan jaringan komunikasi bagi warga juga pelaku bisnis.

Solusi Alcaltel-Lucent Enterprise bagi kebutuhan tersebut adalah instalasi data center dengan expendable network yang dilengkapi backbone core switches berkapasitas 80 GBps. Berikutnya, manajemen jaringan tunggal, Rainbow CPaas (untuk jaringan komunikasi Smart City), UCaas (untuk pengembangan mobile apps) dan jaringan Wi-Fi bagi staff pemerintahan serta warga umum juga diimplementasikan oleh Alcatel-Lucent Enterprise.

Hasil dari implementasi solusi tersebut tak hanya metode koleksi data yang kini dikelola dalam satu platform secara real-time, tetapi juga aplikasi perangkat pintar seperti meteran, sensor, monitor lalu lintas dan sensor keamanan. Solusi ini menjadi insentif tersendiri bagi para start-up teknologi untuk mengembangkan solusi Smart City lainnya.

Categories: Artikel

No comments yet, be the first to leave one!

You must be logged in to post a comment.