Cloud Computing Sebagai Pendukung Operasional Smart City

Cloud Computing Sebagai Pendukung Operasional Smart City

Dengan maraknya penerapan paradigma Smart City di berbagai kota dunia, pemerintah kota harus menyadari pentingnya perencanaan cloud computing. Perencanaan dan investasi dalam bidang cloud computing dapat dilihat sebagai langkah maju teknologi terkini sebagai penyokong kinerja pelayanan publik.

Salah satu fitur utama Smart City, yaitu aplikasi yang menghubungkan, mengatur dan mengoptimalkan data dari serangkaian perangkat IoT dan alat pengumpul informasi, sensor, perangkat lunak. Proses ini diharapkan dapat menciptakan information intelligence dan analytics dengan konteks spesifik yang bertujuan untu menjawab kebutuhan lingkungan dan warga perkotaan.

Informasi dan data yang diperoleh perangkat elektronik penunjang skema Smart City seperti sensor, transducer, actuator, kamera pemantau, Radio-frequency identification (RFID) tag, dan simbol barcode/QR yang mengumpulkan data dari lingkungan (keamanan, cuaca, pola gerak warga, dll)  serta kinerja utilitas publik (air, gas, listrik, transportasi, pencahayaan, dll) dapat dikelola melalui cloud terpusat.

Mengatur data heterogen dalam jumlah sebesar itu memerlukan kapasitas penyimpanan dan performance computing berkekuatan tinggi. Demi menjawab tantangan ini, teknologi terkini seperti cloud computing dan Internet of Things telah diaplikasikan dalam paradigma Smart City. Cloud computing dianggap dapat memfasilitasi penyimpanan-integrasi, visualisassi, processing serta analytics big data dalam rentang waktu yang terukur.

Manfaat yang bisa didapat dari implementasi Smart City datang sepaket dengan tantangan tersendiri. Alcatel-Lucent Enterprise mengidentifikasi empat tantangan tersebut yaitu keamanan data, manajemen data, integritas data dan penekanan biaya.

Melihat implementasi Smart City pada wilayah seluas Provinsi DKI Jakarta, yaitu Jakarta Smart City maka implementasi dari berbagai teknologi dan pendekatan tersebut menjadi pertimbangan krusial.

Berbagai layanan publik DKI Jakarta yang kini sudah terhubung dalam jaringan IoT (bermuara ke Command Center kemudian ditampilkan di portal Jakarta Smart City) adalah bus Transjakarta, 1.200 unit truk sampah, Stasiun Pemantau Kualitas Udara di lima lokasi, lampu jalan, unit ambulans milik pemerintah provinsi, enam Automatic Water Level Recorder dan integrasi 6.519 CCTV.

Informasi dan data yang diperoleh dari berbagai perangkat tersebut dapat dikelola dengan layanan Open Touch Enterprise Cloud. Sebagai layanan full featured enterprise communication yang diatur secara otomatis oleh tim Alcatel-Lucent Enterprise, Open Touch Enterprise Cloud dapat menyediakan jaringan telepon, unified communications, contact center dan kebutuhan industrial lainnya.

Solusi lainnya adalah aplikasi Rainbow sebagai cloud-based UC service (UCaaS) yang memungkinkan kolaborasi antar pengguna di tengah sistem komunikasi yang berbeda-beda. Sebagai solusi overlay, Rainbow menyediakan fitur seperti contact management, presence, chat, audio/video call, screen dan file sharing. Aplikasi ini dapat mempermudah komunikasi antar personil dalam mengoperasikan berbagai perangkat dan keterhubungannya dengan pengolahan informasi/data lingkungan kota dalam cloud.

Semakin dekatnya implementasi paradigma Smart City mengharuskan pemerintah kota untuk mulai merencanakan skema seperti apa yang akan mereka jalankan. Besarnya informasi dan data yang dihasilkan dari skema Smart City tentu akan terbuang percuma apabila tidak berjalan dalam alur serta proses yang tepat.

Categories: Artikel

One comment

You must be logged in to post a comment.