Penguatan Keamanan dalam Jaringan Internet Institusi Pendidikan

Penggunaan Internet of Things Sebagai Penyokong Smart City

Berdasarkan laporan Verizon Data Breach Investigations Report 2018, 28% dari 53.000 kasus insiden keamanan dan peretasan disebabkan oleh faktor manusia dan kelalaian internal. Kasus ini tidak hanya terjadi pada lembaga negara dan perusahaan, namun juga berpotensi menimpa jaringan internet yang menampung informasi banyak pengguna setiap harinya, seperti institusi pendidikan.

Pegawai dan anggota institusi pendidikan harus lebih awas terhadap aktivitas mereka dalam jaringan. Pada laporan Dtexsystems Insider Threat Intelligent Report 2018, beberapa pembobolan, peretasan dan kelelaian tersebut bisa digolongkan Malicious (berniat jahat), Negligent Users (berbahaya karena tidak teliti dan lalai) dan Infiltrators (pihak luar yang mengambil alih identitas melalui pencurian atau phishing).

Menurut laporan di atas, beberapa contoh kelalaian dan penggunaan tak bertanggungjawab dalam jaringan antara lain terbukanya akses data secara publik, peretasan parameter keamanan melalui browsing anonim, penggunaan aplikasi gadget tidak terverifikasi/berisiko tinggi, penggunaan jaringan internet untuk mengakses situs/unduhan berisiko tinggi, serta transfer data berisiko tinggi melalui USB.

Kasus kebocoran soal dan kunci jawaban Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) berbasis komputer dan konvensional pada tingkat SMA/SMK/MA 2017 terjadi dikarenakan oleh peran pihak internal dalam institusi. Menurut Ombudsman Republik Indonesia (ORI), ditemukan 10 maladministrasi dari sisi peserta, pengawas, penyelenggara, dan temuan lain. Kebocoran dikabarkan terjadi 5 hari sebelum pelaksanaan ujian, yang diperparah dengan akses soal dan kunci jawaban di dalam CD tidak dilindungi password.

Kasus dengan skala nasional ini menekankan pentingnya institusi pendidikan di Indonesia untuk mulai memerhatikan keamanan siber sebagai elemen penting untuk menjamin lancarnya kegiatan ujian atau belajar mengajar.

Di sisi infrastruktur jaringan, Alcatel-Lucent Enterprise menyediakan beberapa solusi yang bisa diambil oleh pihak terkait dari institusi pendidikan. Langkah yang dapat diambil antara lain dengan memaksakan akses role based dan karantina bagi pengguna tak terdaftar, smart analytics guna mendeteksi anomali dan potensi serangan DDoS lewat implementasi sistem manajemen Alcatel-Lucent OmniVista® 2500. Dengan menerapkan solusi layarmuka single panel, virtual environment dan jaringan internet dalam institusi pendidikan dapat dikelola dengan mudah.

Insiden dalam keamanan jaringan, baik disadari atau tidak, dapat dicegah secara efisien apabila pihak internal serta setiap komponen anggota mengetahui pentingnya keamanan data serta ditunjang dengan infrastruktur yang mumpuni. Dengan rentannya jaringan internet institusi pendidikan terhadap serangan digital, terciptanya lingkungan yang kondusif untuk memperkuat kompetensi setiap pelajar menjadi sangatlah penting.

Categories: Artikel

One comment

You must be logged in to post a comment.